February 1, 2008 |

Pensil

Pensil, kita semua paham sekali, adalah sebuah alat tulis sederhana, sejak dulu hingga kini. Mari kita amati sejenak dari sudut yang berbeda;

Pertama;

Pensil dapat membuahkan hal-hal besar dan luar biasa, gambar maupun tulisan. Namun ternyata yang terpenting adalah ’tangan’ yang menggerakkannya. Begitu pula kehidupan. Siapapun, dimanapun, kapanpun, selalu ada ’tangan’ yang menggerakkan kehidupan. Kalangan agama menyebutnya Tuhan. TanganNYA-lah yg selalu menuntun ’hidup’ kita, apapun hasilnya, menyenangkan atau tidak.

Kedua;

Ketika tumpul, pensil perlu di-raut agar tulisan jadi lebih nyata. Begitu pula hidup, sesaat hadir ‘penderitaan’ bak pensil ketika diraut. Setelah melewatinya, kita dibekali pengetahuan, makin menghargai kebahagiaan sekecil apapun itu. Kita pun lantas mampu berdiri lebih kuat. Penderitaan dan kebahagiaan memang selalu datang silih berganti sebagaimana siang dan malam, panas dan dingin, gelap dan terang.
Ketiga;

Ketika kesalahan terjadi, Pensil menyediakan penghapus untuk memperbaikinya. Begitu di perjalanan hidup kita, di keseharian kita. Kesalahan demi kesalahan terjadi, dan itu bukan sebuah malapetaka. Paling tidak ketika kita berbuat salah, artinya kita telah melakukan sesuatu. Dan takut berbuat salah adalah takut untuk berbuat. Dan hasilnya hanya membuahkan kebodohan intelektual
Keempat;

Bagi sebuah Pensil, hal terpenting bukanlah hiasan cat warna-warni keemasan di atasnya, namun graphite hitam di dalamnya. Bukan jeans Levis atau lainnya, sepatu kluaran itali apa bukan atau jam tangan Rolex atau bukan, tapi cara pandang & perilaku kita jauh lebih penting dari semua itu.

Kelima;

Ketika digunakan, pensil selalu meninggalkan bekas berupa tulisan dan atau gambar. Tinggalkanlah tulisan dan gambar yg ’bagus’ agar bermanfaat bagi sesama.

sumber: Like the Flowing River, by Paulo Coelho


Comments

6 Comments so far

  1. Paman Tyo on February 1, 2008 3:39 pm

    Pensil yang mana nih? 2b atau 6b? Atau 1H? Atau HB?

  2. tamansari on February 2, 2008 8:53 am

    dear angel..finaly you launched your own blog. And you know what, you made the pencil story more beautiful and easier to chew..keep on writing, you have a lot in mind as you always share it to me..boleh di link di blogroll ku ya blognya, thanks :)

  3. niez-nya adit on February 3, 2008 12:15 am

    klo pensil lebih enak buat gambar. terutama pensil kayu yang 2B. klo buat nulis lebih enak pensil mekanik. tapi teuteup saya lebih suka nulis pake drawing pen dari pada pensil. :mrgreen:

  4. ebeSS on February 4, 2008 1:21 am

    Keenam;

    Pensilnya abis ato terlalu pendek untuk dipegang
    Patah keinjak ato kedudukan
    Ilang ato kebawa teman . . . . . . :P

  5. Ndoro Seten on February 4, 2008 8:01 am

    Berarti hidup adalah pensil yo?

  6. fanabis on February 5, 2008 7:45 pm

    pak didi, apa kabar :)

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image